Is Our Life

Thursday, March 29, 2007

Tong Sampah

TONG SAMPAH

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah
mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa
pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan
sekolah.

Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh
dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namun
yang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak
laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di
pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah
seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari.
Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka.
Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri
tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia
menghentikan permainan mereka, dan berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti
suka bersenang-senang.  Saya suka sekali dengan cara kalian
bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka
bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?"
"Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak. "Okay, begini," pak Tua itu
tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya.
Katanya, "Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian
harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini
setiap hari."

Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka "bekerja"
memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut "pekerjaan"
mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih.
Katanya, "Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat
uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Ia
menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya.
Lanjut pak Tua. "Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus
saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini."

Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih
bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan
sepanjang hari.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati
anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, "Maaf, bulan ini saya
belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian
bertiga seribu Rupiah saja." "Apa..? Seribu untuk bertiga?," protes
pemimpin pemain tong sampah itu. " Apa pak Tua kira kami ini mau
menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar
saja! Pak Tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi
melakukan tugas ini lagi. Kami keluar."

Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan
bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga
akhir hayatnya.

Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan "uang gaji".
Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap
"keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila
"bayarannya" berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang.

Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang
gajian belaka.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]



<< Home